Wednesday, January 28, 2009
Aku akan rajin seperti mama.. janji.

Liburanku di Dumai untuk Januari ini sudah selesai. Aku kembali ke Depok dengan perasaan yang campur aduk. Tidak biasanya aku menangis di dalam pesawat saat take-off.. untungnya aku duduk di bangku pojok, jadi aku bisa menyembunyikan tangisanku dengan menghadapkan mukaku ke jendela. Saat itu aku melihat bandara Pinang Kampai Dumai yang semakin mengecil, dan hamparan kota Dumai yang sederhana.. semakin jauh.. rumahku, keluargaku.. semuanya..

Sebulan ini aku menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Selalu bersama. Ke Malaysia, ke Pekanbaru, ke Bangkinang, aku selalu ikut bersama mereka. Sebulan bersama ayah ibu membuat aku benar-benar kembali ke masa kecil, apalagi ada bang azwan juga. Yang paling aku suka adalah saat makan bersama di meja bundar. Kami selalu makan bersama di meja itu, dan anggota keluarga yang ada harus hadir saat itu, kalau belum lengkap, biasanya si bungsu vivi yang akan teriak memanggil. “Kak Lindaa…!! Baaang wawaaan…!! Makan yuuuuk!!” begitu kira-kira. Saat makan di meja bundar, maka saatnya kami bercerita saling curhat, saling menasehati, bercanda satu sama lain.. jadi, tidak ada istilahnya makan belakangan.. atau makan di kamar.. tidak, semua kami harus ikut makan bersama. Dan aku tahu, disitulah justru kehangatan keluarga sangat aku rasakan. Saat kami semua bisa saling melihat wajah anggota keluarga satu sama lain, saat kami bisa saling memperhatikan tiap anggota keluarga.. si vivi yang makannya kadang banyak kadang sedikit, bang azwan yang makannya paling banyak, dll..

Hal lain yang membuat aku selalu kangen rumah adalah mama, wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Aku selalu belajar dari mama. Keikhlasan beliau membahagiakan suami dan anak-anaknya selalu membuat aku terpana. Aku takjub dengan kekuatan mama, kesabaran mama, kelembutan mama… rasanya belum pernah aku temui orang yang sehebat mama dalam hidupku.. berlebihan..? bagiku tidak. Mama itu rajin sekali bekerja, apapun  yang bisa ia lakukan untuk membahagiakan keluarga ini, maka akan ia lakukan. Saat di dapur sama mama, beliau selalu memberiku wejangan dengan sangat baik. Yah, wejangan kehidupan. Beliau yang sudah mengecap asam garam kehidupan ini dengan ikhlas mengingatkan aku agar selalu ikhlas dengan apapun cobaan hidup, hadapi semuanya dengan sabar dan sholat. Mohon pada Allah.. itu saja. Aku banyak tahu tentang cerita mama. Susah senangnya kehidupan mama. Semua beliau ceritakan untuk aku ambil pelajaran berharga darinya. Sungguh.. dalam sekali rasa syukurku karena dianugerahkan seorang ibu seperti mama. Mama yang sangat sabar menghadapi anak-anaknya, yang tidak pernah lelah membahagiakan kami dengan masakannya, kue-kuenya, bahkan dengan pakaian jahitannya sendiri! Nasehat darinya selalu terdengar ikhlas, tidak seperti menggurui, tapi hanya ingin melihat kami menjadi lebih baik kedepannya. Pernah aku bertannya sama mama, “Mama.. mama kok nggak capek ya.. udahan ya ma, mama istirahat aja dulu, besok kita sambung lagi bikin kuenya ya..”. tapi mama bilang, “Nggak apa-apa kok lin, mama belum capek, lagian karna kita mau bikin banyak kue hari ini, mama tadi udah minum vitamin kok, hehe..”. Aku hanya bisa diam. Rajin sekali mamaku ini, penuh semangat.. malu rasanya jika aku bandingkan dengan diriku. Jauh sekali.

Ma… sungguh, ingin rasanya aku menjadi anak yang rajin seperti mama. Rajin belajar, rajin berbuat baik, rajin membahagiakan orang lain.. karena itulah yang aku lihat dari mama. Di Mata mama hanya beningnya ikhlas yang aku lihat, dari kata-kata mama hanya ketulusan yang aku dengar, dari sikap mama hanya kasih sayang yang aku rasakan.. pernah aku iseng nyeletuk sama mama, “Ma, ntar kalo linda udah berkeluarga juga, linda bisa jadi kayak mama nggak ya..? suami dan anak-anak linda bisa sebahagia papa dan kami semua nggak ya..??” spontan mama tertawa dan tersenyum melihatku. “Ya, bisa lah sayang… makanya harus belajar dari sekarang..”. Haha.. malu sekali aku waktu itu. Memang tidak ada yang instant, aku harus pertahankan tekadku dan belajar dari sekarang. Hapus kata malas dari kehidupanku. Jangan biarkan ia datang walau satu detik! Huh..! aku benci malas. Ma.. aku sudah tidak tahu lagi bagaimana berterima kasih padamu. Dan ya Allah.. rasanya makin bertambah rasa malu ini pada Mu.

Mama.. aku akan rajin seperti mama.. janji. InsyaAllah..

Posted at 05:08 pm by hazlinda

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry


hazlinda
Depok

<< January 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed