Liburanku di Dumai untuk Januari ini sudah selesai. Aku kembali
ke Depok dengan perasaan yang campur aduk. Tidak biasanya aku menangis di dalam
pesawat saat take-off.. untungnya aku
duduk di bangku pojok, jadi aku bisa menyembunyikan tangisanku dengan menghadapkan
mukaku ke jendela. Saat itu aku melihat bandara Pinang Kampai Dumai yang
semakin mengecil, dan hamparan kota Dumai yang sederhana.. semakin jauh..
rumahku, keluargaku.. semuanya..
Sebulan ini aku menghabiskan waktu bersama keluarga
tercinta. Selalu bersama. Ke Malaysia, ke Pekanbaru, ke Bangkinang, aku selalu
ikut bersama mereka. Sebulan bersama ayah ibu membuat aku benar-benar kembali
ke masa kecil, apalagi ada bang azwan juga. Yang paling aku suka adalah saat makan
bersama di meja bundar. Kami selalu makan bersama di meja itu, dan anggota
keluarga yang ada harus hadir saat itu, kalau belum lengkap, biasanya si bungsu
vivi yang akan teriak memanggil. “Kak Lindaa…!! Baaang wawaaan…!! Makan yuuuuk!!”
begitu kira-kira. Saat makan di meja bundar, maka saatnya kami bercerita saling
curhat, saling menasehati, bercanda satu sama lain.. jadi, tidak ada istilahnya
makan belakangan.. atau makan di kamar.. tidak, semua kami harus ikut makan
bersama. Dan aku tahu, disitulah justru kehangatan keluarga sangat aku rasakan.
Saat kami semua bisa saling melihat wajah anggota keluarga satu sama lain, saat
kami bisa saling memperhatikan tiap anggota keluarga.. si vivi yang makannya kadang
banyak kadang sedikit, bang azwan yang makannya paling banyak, dll..
Hal lain yang membuat aku selalu kangen rumah adalah
mama, wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Aku selalu belajar dari mama.
Keikhlasan beliau membahagiakan suami dan anak-anaknya selalu membuat aku
terpana. Aku takjub dengan kekuatan mama, kesabaran mama, kelembutan mama…
rasanya belum pernah aku temui orang yang sehebat mama dalam hidupku..
berlebihan..? bagiku tidak. Mama itu rajin sekali bekerja, apapunyang bisa ia lakukan untuk membahagiakan
keluarga ini, maka akan ia lakukan. Saat di dapur sama mama, beliau selalu
memberiku wejangan dengan sangat baik. Yah, wejangan kehidupan. Beliau yang
sudah mengecap asam garam kehidupan ini dengan ikhlas mengingatkan aku agar selalu
ikhlas dengan apapun cobaan hidup, hadapi semuanya dengan sabar dan sholat. Mohon
pada Allah.. itu saja. Aku banyak tahu tentang cerita mama. Susah senangnya
kehidupan mama. Semua beliau ceritakan untuk aku ambil pelajaran berharga
darinya. Sungguh.. dalam sekali rasa syukurku karena dianugerahkan seorang ibu
seperti mama. Mama yang sangat sabar menghadapi anak-anaknya, yang tidak pernah
lelah membahagiakan kami dengan masakannya, kue-kuenya, bahkan dengan pakaian
jahitannya sendiri! Nasehat darinya selalu terdengar ikhlas, tidak seperti
menggurui, tapi hanya ingin melihat kami menjadi lebih baik kedepannya. Pernah aku
bertannya sama mama, “Mama.. mama kok nggak capek ya.. udahan ya ma, mama
istirahat aja dulu, besok kita sambung lagi bikin kuenya ya..”. tapi mama
bilang, “Nggak apa-apa kok lin, mama belum capek, lagian karna kita mau bikin
banyak kue hari ini, mama tadi udah minum vitamin kok, hehe..”. Aku hanya bisa
diam. Rajin sekali mamaku ini, penuh semangat.. malu rasanya jika aku
bandingkan dengan diriku. Jauh sekali.
Ma… sungguh, ingin rasanya aku menjadi anak yang rajin
seperti mama. Rajin belajar, rajin berbuat baik, rajin membahagiakan orang
lain.. karena itulah yang aku lihat dari mama. Di Mata mama hanya beningnya
ikhlas yang aku lihat, dari kata-kata mama hanya ketulusan yang aku dengar,
dari sikap mama hanya kasih sayang yang aku rasakan.. pernah aku iseng nyeletuk
sama mama, “Ma, ntar kalo linda udah berkeluarga juga, linda bisa jadi kayak
mama nggak ya..? suami dan anak-anak linda bisa sebahagia papa dan kami semua
nggak ya..??” spontan mama tertawa dan tersenyum melihatku. “Ya, bisa lah sayang…
makanya harus belajar dari sekarang..”. Haha.. malu sekali aku waktu itu. Memang
tidak ada yang instant, aku harus pertahankan tekadku dan belajar dari
sekarang. Hapus kata malas dari kehidupanku. Jangan biarkan ia datang walau
satu detik! Huh..! aku benci malas. Ma.. aku sudah tidak tahu lagi bagaimana
berterima kasih padamu. Dan ya Allah.. rasanya makin bertambah rasa malu ini
pada Mu.
Mama.. aku akan rajin seperti mama.. janji. InsyaAllah..